PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI BIDANG KESEHATAN PEMBERDAYAAN IBU BALITA KELUARGA KURANG MAMPU UNTUK MENGATASI MALNUTRISI PADA BALITA MELALUI PEMBENTUKAN POS GIZI DI KELURAHAN/DESA …… KAB/KOTA….
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI BIDANG KESEHATAN
PEMBERDAYAAN IBU BALITA KELUARGA KURANG MAMPU
UNTUK MENGATASI MALNUTRISI PADA BALITA MELALUI
PEMBENTUKAN POS GIZI DI KELURAHAN/DESA ……
KAB/KOTA….
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan intelektual, menurunkan produktifitas,menurunkan daya tahan , meningkatkan angka kesakitan dan kematian (depkes RI, 2000)
Kemiskinan dan kurang gizi merupakan suatu fenomena yang saling terkait, oleh karena itu meningkatnua status gizi masyarakat erat kaitannya dengan peningkatan ekonomi ( Azwar, 2004).
Krisis ekonomi di Indonesia yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 diikuti krisis dalam bidang lain, akibatnya jumlah penduduk miskin meningkat menjadi 2 kali lipat dari jumlah sebelumnya (Hikam, 2000). Perubahan pola konsumsi pangan merupakan salah satu dampak yang menonjol pada masyarakat miskin sebagai akibat penurunan daya beli (Latief, 2000). Perubahan pola konsumsi pangan yang terjadi berupa menurunnya konsumsi zat gizi baik makro maupun mikro untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari , akibatnya terjadi penurunan status gizi masyrakat terutama pada kelompok umur 6-23 bulan (Depkes RI, 2000).
Malnutrisi pada balita disebabkan oleh beberapa hal yang berkaitan dengan kemiskinan , yaitu kekurangan pangan akibat rendahnya daya beli masyarakat dan rendahnya tingkat pengetahuan orangtua. Selain itu, factor pendidikan dan perilaku ibu terutama dalam pemberian makan kepada anaknya mempunyai kontribusinya terhadap timbul malnutrisi. (Veni Hadju, 2000).
Tahun 1999 diperkirakan sekitar 1,7 juta balita di Indonesia menderita gizi buruk berdasarkan berat badan dan umur. Sekitar 10 % dari 1,7 juta balita ini (sekitar 170.000 balita) menderita gizi buruk tingkat berat seperti marasmus, kwashiorkor atau kombinasi marasmus kwashiorkor. Jumlah balita gizi buruk tingkat berat yang tercatat di departemen kesehatan sampai akhir 1999 berdasarkan laporan KLB-gizi buruk sekitar 24.000 balita (depkes RI, 2000).
Kasus gizi buruk mengalami peningkatan yang signifikan, terutama pada pertengahan tahun 2005, banyak ditemukan anak balita yang terdeteksi gizi buruk tingkat berat dan terjadi KLB pada beberapa daerah di Indonesia.
Kasus malnutrisi pada balita di PROVINSI….. tergolong cukup tinggi dan 7 diantaranya meninggal dunia. Berdasarkan data tahun 2005, ditemukan sebanyak 52 kasus gizi buruk, 31 anak diantaranya telah memperoleh perawatan di RSUD ……, (B.Post, 2008).
Dari hasi survey PSG Dinkes ……. tahun 2007 pada 529 balita di 5 kelurahan yang ada di kecamatan ….., terdapat 8,78 % mengalami malnutrisi. Kasus tertinggi terdapat di kelurahan ……., yaitu pada tahun 2008 tercatat 27 balita atau sekitar 4,39 % mengalami malnutrisi (laporan bulanan Puskesmas ……., 2008). Meskipun data tersebut belum menunjukkan presentasi kasus yang sangat tinggi , namun pada banyak kasus malnutrisi yang belum tercatat masih lebih banyak daripada data yang telah dilaporkan.
Menurut Kumar SP (WHO, 2007) malnutrisi antara lain disebabkan oleh factor kemiskinan keluarga/ penghasilan yang rendah sehingga tidak dapat memenuhi 7) malnutrisi antara lain disebabkan oleh factor kemiskinan keluarga/ penghasilan yang rendah sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan akibatnya nutrisi anak tidak terpenuhi. Kurangnya pendapatan/penghasilan keluarga mengakibatkan masyarakat tidak berdaya untuk melakukan pola pengasuhan yang adekuat terhadap balitanya sehingga rentan untuk menderita malnutrisi.
Positive Deviance merupakan salah satu pendekatan yang tepat dalam mengurangi angka kekurangan gizi. Pendekatan ini direalisasikan melalui kegiatan pos gizi, setelah sebelumnya dilakukan penyelidikan perilaku khusus positive (Positive Deviance Inquiry, PDI), sehigga pendekatan ini disebut pula sebagai pendekatan pos gizi.
Program Positive Deviance telah dilakukan di Vietnam dan dinyatakan berhasiiiil terlihat pada data save the children, kegiatan ini melakukan dengan studi kohort terhadap 700 orang anak yang berpartisipasi dalam program ini . program ini dapat mengurangi kekurangan gizi tingkat sedang dan ringan hingga 80%. Sedangkan kekurangan gizi tingkat berat berhasil diatasi secara menyeluruh.
Level kemajuan tersebut didapat setelah melakukan observasi selama 14-23 bulan setelah berpartisipasi dalam program ini (CORE, 2003).
Berdasarkan konsep pendekatan pos gizi yang kekhasannya adalah menemukan solusi permasalahan di dalam masyarakat sendiri, diharapkan dapat mengembangkan keberdayaan masyarakat untuk mengatasi permasalahan malnutrisi yang ada secara mandiri, khususnya pada kelurahan Guntung Payung kecamatan landasan Ulin kota banjarbaru.
B. Permasalahan
Kemiskinan berdampak pada penghasilan sehingga mengakibatkan kurang berdayanya masyarakat untuk melakukan pola asuh yang adekuat bagi balitanya terutama dalam hal pemberian intake makanan yang baik, pola perawatan tumbuh kembang yang optimal dan akses terhadap pelayanan kesehatan yang memadai, akibatnya rentan malnutrisi pada balita yang lahir di tengah keluarga miskin, sehingga diperlukan adanya pendekatan yang tepat untuk membangkitkan keberdayaan masyarakat miskin dalam hal ini ibu-ibu balita untuk mengatasi masalah malnutrisi pada balita secara mandiri.
C. Fokus pemberdayaan
Fokus pemberdayaan adalah ibu-ibu balita dari keluarga miskin di wilayah desa…. Kabupaten/kota…..dengan tujuan agar secara mandiri mampu :
1. Memperbaiki status gizinya
2. Mempertahankan status gizi balitanya sehingga tidak kembali mengalam malnutrisi.
3. Mencegah agar anak-anak selanjutnya tidak mengalami malnutrisi.
D. Populasi Target
1. Premier
Para ibu yang mempunyai balita di wilayah kelurahan /desa…..
2. Sekunder
Keluarga (suami, nenek dan kakak) dari balita, yang juga dapat dilibatkan dalam pengasuhan balita di rumah.
3. Tersier
Kader Kesehatan (posyandu) dan Tenaga Kesehatan di desa.
BAB II
PERENCANAAN PROGRAM PEMBERDAYAAN
A. Tujuan
1. Tujuan umum.
Tujuan umum pelaksanaan program pemberdayaan ini adalah keterlibatan masyarakat secara aktif, khususnya keluarga yang mempunyai balita malnutrisi dalam upaya mengatasi masalah gizi, dan sebagai solusi pemecahan masalah yang didapat dipertimbangkan dalam perencanaan program kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,
2. Tujuan khusus
a. Ibu balita beserta keluarga menyadari bahwa masalah malnutrisi balita merupakan permasalahan yang serius dan harus segera diatasi.
b. Ibu balita beserta keluarga mampu mengatasi masalah malnutrisi balita secara mandiri dengan menggunakan sumber daya local.
c. Terbentuknya pos gizi yang dapat dijadikan salah satu upaya pemecahan masalah malnutrisi pada balita yang sederhana dan murah.
d. Meningkatkan status gizi balita dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya local berupa bahan pangan dan perubahan perilaku pola pengasuhan balita melalui pos gizi.
B. Metode/kegiatan
Bentuk kegiatan yang dilakukan pada program pemberdayaan ibu balita dalam mengatasi masalah malnutrisi balita adalah dengan pembentukan pos gizi.
Melalui pendekatan Positive Deviance atau penyimpangan positif. Sebelum dibentuk pos gizi oleh masyarakat perlu dilakukan penyelidikan Positive Deviance. Penyelidikan Positive Deviance dilakukan berdasarkan rekomendasi dari kader posyandu yaitu pada keluarga yang memenuhi 4 persyaratan berikut :
1. Mempunyai anak balita yang sehat usia 6-59 bulan
2. Keluarga tergolong kurang mampu
3. Anak balitanya sehat pada saat dikunjungi
4. Mempunyai anak lebih dari satu dan semua anaknya sehat.
Penyelidikan Positive Deviance dilakukan untuk menemukan pola-pola khusus berkaitan dengan 4 pola dalam pendekatan Positive Deviance yaitu :
1. Pola pemberian makan pada balita
2. Pola pengasuhan balita
3. Pola keluarga dalam menjaga kebersihan
4. Pola keluarga dalam mendapatkan pelayanan kesehatan bagi balita.
Mereka sadari akan tetapi telah berhasil membuat status gizi balitanya baik serta sehat dalam keterbatasan ekonomi. Pola-pola khusus tersebut dapat diketahui setelah membandingkan dengan hasil temuan. Pola-pola umum yang ada dimasyarakat tentang pola pemberian makan pada balita, pola pengasuhan balita, pola keluarga dalam menjaga kebersihan dan pola keluarga dalam mendapatkan pelayanan kesehatan bagi balita yang didapatkan dari focus group discussion (FGD).
Pola-pola khusus yang menjadi kunci keberhasilan keluarga miskin dalam menyehatkan balita itulah yang nantinya akan diterapkan dan dipraktekkan oleh ibu-ibu balita yang menjadi peserta pos gizi semua ditentukan dan dilaksanakan oleh ibu-ibu balita sendiri dengan difasilitasi oleh kader sebagai konteks pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan ini.
C. Sumber daya manusia dan hambatan
1. Pemetaan wilayah
Hasil survey pemantauan status gizi (psg) balita berdasarkan berat badan dan umur oleh dinas kesehatan kota …. pada tahun 2007 di 5 kelurahan yang ada dikecamatan ….., terdapat 28,7% balita kurang gizi. Kasus tertinggi terdapat di kelurahan ……yakni 8,9% balita kurang gizi, dalam penimbangan balita di posyandu pada bulan maret tahun 2010 di posyandu Melati RT 6 terdapat balita 48,7% balita yang kekurangan gizi berdasarkan berat badan dan umur dengan menggunakan standar WHO-NCHS (national Center For Health Statistic). Angka ini merupakan persentase tertinggi diantara 7 posyandu yang ada di berada di desa…..
Mata pencaharian kepala keluarga di kelurahan /desa….. umumnya adalah buruh harian dengan penghasilan yang tidak menentu sehingga banyak KK yang termasuk dalam kategori keluarga miskin.
2. Pengkajian masalah (analisa SWOT)
a. Strength
1) Adanya posyandu dengan jumlah kader …. orang
2) Adanya tenaga kesehatan setempat (bidan desa)
3) Adanya keluarga miskin di wilayah kelurahan ……..dengan balita yang sehat
4) Adanya sumber-sumber makanan local
b. Weakness
1) Sebagian besar KK memiliki tingkat penghasilan yang rendah
2) Tingkat pengetahuan ibu balita dan keluarga tentang penyebab malnutrisi balita masih rendah
3) Tingkat pengetahuan ibu balita tentang pola pengasuhan anak yang baik masih rendah
4) Tingkat pemahaman terhadap pemanfaatan akses pelayanan kesehatan yang optimal
c. Opportunity
Ibu-ibu balita di wilayah kelurahan Guntung Payung umumnya adalah ibu rumah tangga, sehingga memiliki pola aktivitas yang hampir seragam.
d. Threat
Masyarakat belum terbiasa dengan program yang bersifat pemberdayaan karena lebih sering mendapatkan bantuan-bantuan yang bersifat langsung sehingga membuat masyarakat cenderung manja dan tidak mandiri.
3. Pengenalan masalah
Nutrisi bagi balita sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan oleh karena itu masalah malnutrisi balita harus segera diatasi agar tidak semakin banyak jumlah balita yang mengalami malnutrisi. Salah satu factor yang menyebabkan malnutrisi baliat adalah kemiskinan keluarga akan tetapi masalah ini merupakan suatu hal yang tidak mudah diatasi dengan segera karena merupakan suatu proses yang kompleks dan berkaitan dengan banyak sector
4. Prioritas masalah
Ibu balita dari keluarga miskin harus mampu secara mandiri mengatasi malnutrisi balita dengan tepat dan optimal menggunakan sumber daya yang ada disekitarnya.
D. Rencana Pelaksanaan
1. Pembentukan kelompok
Kelompok-kelompok yang sudah ada di masyarakat yang dapat diberdayakan untuk program ini adalah :
1. Posyandu
2. PKK
3. Kelompok pengajian
4. Dasa wisma
2. Penyamaan persepsi materi pemberdayaan
Penyamaan persepsi dilakukan dengan cara CSS (Community Self Survey) mengenai permasalahan malnutrisi balita yang meliputi besarnya permasalahan yang dihadapi, factor-faktor penyebab dan cara-cara efektif untuk penanggulangannya. Penyamaan persepsi ini dilakukan dengan mengundang seluruh kelompok-kelompok diatas terkait dengan pengasuhan dan malnutrisi balita.
3. Kemitraan dan pendampingan
Kemitraan dan pendampingan diharapkan dari tenaga kesehatan setempat (Bidan Desa) dan puskesmas namun dengan porsi yang tidak terlalu besar bidan desa dan puskesmas bukan penentu keputusan terhadap arah dan keberlangsungan program tetapi lebih sebagai motivator dan konsultan agar pelaksanaan program tetep berjalan sesuai dengan arahan yang tepat.
4. Jadwal kegiatan program
|
NO |
Jenis Kegiatan |
Waktu Kegiatan |
|||||||
|
Bulan 1 |
Bulan 2 |
||||||||
|
I |
II |
III |
IV |
I |
II |
III |
IV |
||
|
1. |
Persiapan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2. |
Pelaksanaan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3. |
Pelaporan |
|
|
|
|
|
|
|
|
E. RENCANA DAN EVALUASI
1. Monitoring
Monitoring dilakukan selama kegiatan pos gizi berlangsung untuk memantau tingkat kehadiran peserta serta kegiatan pendidikan yang dilakukan dalam pos gizi. Monitoring dilakukan oleh kader posyandu sebagai fasilitator kegiatan dengan formulir yang telah tersedia dan daftar menu kemudian dilakukan dengan kunjungan rumah untuk mengetahui praktik ibu balita di rumah.
Hasil dari monitoring oleh kader posyandu kemudian akan dikoordinasikan dalam acara pertemuan desa untuk dapat dikaji bersama mengenai kelangsungan pelaksanaan program Pos gizi. Masyarakat merupakan pelaku utama monitoring karena kegiatan pemberdayaan melalui pembentukan pos gizi merupakan kegiatan dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.
Segala temuan yang ada dari hasil monitoring akan dibahas sebagai pertimbangan ke arah perbaikan dan diupayakan solusi bersama dari masyarakat untuk mengatasi masalah yang muncul agar program tetap berlangsung dengan lancar dan semakin baik.
2. Evaluasi
Evaluasi hasil dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung aspek yang dievaluasi meliputi perubahan status gizi balita di pos gizi, perubahan jumlah kasus malnutrisi di posyandu dan perubahan pola asuh balita oleh ibu balita dan keluarga di rumah tangga.
BAB III
PELAKSANAAN PROGRAM PEMBERDAYAAN
A. Proses dan prosedur pelaksanaan pemberdayaan
1. Pemetaan wilayah program dan baseline data
Pemetaan wilayah program dan baseline data bertujuan untuk :
a. Identifikasi dan pelacakan posisi balita malnutrisi
b. Pelaksanaan penanganan kasus malnutrisi di pelayanan kesehatan
c. Kondisi geografis setiap rumah
2. Pembentukan komitmen dan mobilisasi masyarakat dengan metode participatory Rural Appraisal (PRA)
Pembentukan dan pelaksanaan pos gizi membutuhkan komitmen dari masyarakat cukup tinggi, sehingga diharapkan keterlibatan ibu-ibu balita untuk memberikan kontribusi waktu untuk berkumpul dengan sesame ibu balita, memberikan kontribusi bahan-bahan / material yang dibutuhkan oleh pos gizi. Tenaga kader yang selama ini sudah terlibat dalam kegiatan posyandu diharapkan juga bisa terlibat dalam pos gizi. Dengan adanya kader ini diharapkan menjadi fasilitator pendamping dalam memberikan pelayanan selama pos gizi berlangsung. Sedangkan mobilisasi masyarakat dilakukan untuk menginformasikan permasalahan yang mereka hadapi. Hal ini merupakan tahap awal mereka mulai belajar untuk mengenal permasalahannya dan terlibat dalam proses pemecahan masalah mereka sendiri. Pada pelaksanaannya kegiatan ini melibatkan masyarakat antara lain :
a. Kepala desa/kepala kelurahan
b. Tenaga kesehatan desa
c. Tokoh-tokoh agama
d. Puskesmas
e. Unsur lain yang dapat mendukung pelaksanaan program.
3. Diskusi kelompok terarah (focus group discussion, FGD)
FGD dilakukan pada kelompok masyarakat yang menjadi perwakilan yang memberikan informasi tentang norma yang berlaku di masyarakat. Kelompok yang menjadi informan adalah kelompok yang dianggap berkaitan erat dalam hal pengasuhan dan perawatan anak oleh keluarga di rumah, yaitu :
a. Kelompok Bapak
b. Kelompok Ibu
c. Kelompok Nenek
d. Kelompok Kakak
Selain melakukan FGD dengan keempat kelompok diatas, juga perlu didapatkan informasi-informasi penting dari orang-orang yang dianggap berperan pada kesehatan ibu dan anak di masyarakat diantaranya bidan desa , dukun beranak, staff puskesmas dan tokoh agama.
Hasil hasil temuan dari FGD bisa diinformasikan dalam bentuk matriks (praktek yang baik dan praktek yang kurang baik).
|
Informasi umum |
Pola makan |
Pola keluarga dalam pengasuhan balita |
Pola keluarga dalam mendapatkan pelayanan kesehatan |
|
|
|
|
|
4. Persiapan penyelidikan penyimpangan positif (Positive Deviance Inquiry)
Persiapan yang dilakukan antara lain adalah :
a. Identifikasi keluarga penyimpang positif (PP), yaitu keluarga miskin yang memiliki balita sehat, dan keluarga non PP, yaitu keluarga miskin yang memiliki balita malnutrisi.
Syarat keluarga yang memiliki perilaku positif yang akan diselidiki:
1. Keluarga dengan anak yang sehat 12-59 bulam
2. Keluarga tersebut kurang mampu
3. Kondisi anak sehat saat dikunjungi
4. Keluarga mempunyai anak lebih dari satu dan semua anaknya sehat
b. Pelatihan kader posyandu dan staf pelaksana dalam melakukan penyelidikan perilaku penyimpangan positif (Positive Deviance Inquiry)
c. Melakukan penyelidikan penyimpang positif (Positive Deviance Inquiry)
Ada 3 kategori perilaku-perilaku utama yang akan diobservasikan dalam penyelidikan penyimpang positif yaitu :
1) Pola makan balita meliputi jenis makan (jumlah dan frekuensi) yang dikonsumsi oleh balita, jumlah kalori yang memenuhi kecukupan gizi dan kecukupan kalori pada balita
2) Pola keluarga dalam pengasuhan balita meliputi perhatian anggota keluarga terhadap balita, prioritas dalam distribusi makanan untuk balita.
3) Pola keluarga dalam mendapatkan pelayanan kesehatan balita.
Sebagaimana halnya dengan hasil temuan FGD, hasil-hasil temuan penyelidikan penyimpangan positif (PPP) baik dari keluarga PP maupun non PP bisa diinformasikan dalam bentuk matriks (praktek yang baik dan praktek yang kurang baik).
d. Merancang kegiatan dan implementasi POS GIZI berdasarkan hasil dari Positive Deviance Inquiry
|
Senin |
Selasa |
Rabu |
Kamis |
Jum’at |
Sabtu |
Minggu |
|
PG* |
PG |
PG |
PG |
PG |
PG |
libur |
|
PG |
PG |
PG |
PG |
PG |
PG |
** |
|
** |
** |
** |
** |
** |
** |
** |
Jadwal pos gizi selama satu sesi kegiatan (21 hari) :
Keterangan :
PG* : penimbangan balita saat pos gizi
PG : pelaksanaan pos gizi
** : monitoring praktek perilaku ibu di rumah
Waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan harian pos gizi kira-kira 2 jam setiap hari, terdiri dari :
1. Mengumpulkan kontribusi bahan makanan
2. Memasak (menu dengan komposisi total kalori 1 porsi menu / anak / hari =400-800 kalori dan total protein 20-30 gram)
3. Makan bersama
4. Praktek kebersihan pribadi
5. Pendidikan kesehatan
6. Membersihkan peralatan makan dan tempat pos gizi
7. Diskusi tentang menu hari ini dan menu untuk hari esok dan kontribusi
B. Dukungan dan Hambatan
1. Dukungan
Dukungan dalam pelaksanaan program pemberdayaan yaitu :
a) Dukungan dari lurah kepala desa… , ketua RW dan ketua RT, tokoh masyarakat , agama dan kelompok-kelompok seperti PKK, dasa wisma dan terutama ibu-ibu balita dan keluarga sebagai target prime dan sekunder kegiatan
b) Dukungan dari fasilitator dan motivator yaitu kader posyandu dan tenaga kesehatan setempat untuk memfasilitasi dan mengarahkan pelaksanaan kegiatan.
2. Hambatan
Hambatan dapat terjadi adalah minimnya partisipasi dari ibu-ibu rumah tangga sebagai focus dari pemberdayaan, karena factor kesibukan aktivitas dirumah dan kurangnya dukungan dari suami, serta orang tua untuk mengikuti kegiatan. Hal ini dapat diantisipasi pada tahapan mobilisasi masyarakat dengan mengikutsertakan para bapak (suami) dan orang tua (nenek) agar mengetahui maksud dan tujuan pelaksanaan kegiatan, sehingga akan mendukung dan membantu ibu-ibu balita untuk datang ke pos gizi.
BAB IV
EVALUASI
A. Evaluasi Proses
|
No |
Kegiatan |
Metode |
Waktu |
Indikator |
|
1. |
Pemetaan wilayah program dan baseline data |
Mapping dan collecting data sekunder |
Setelah pelasksanan |
Didapatkan setidaknya 15 balita yang memenuhi syarat |
|
2. |
Pembentukan dan komitmen dan mobilisasi masyarakat dengan metode PRA |
Cek daftar hadir dan notulensi |
Setelah pelaksanaan |
Didapatkan komitmen dan solusi, serta rencana kegiatan bersama |
|
3. |
Melaksanakan FGD |
Cek daftar hadir dan notulensi |
Saat dan setelah pelaksanaan |
Didapatkan pola-pola umum pengasuhan balita di masyarakat |
|
4. |
Persiapan penyelidikan, penyimpangan positif |
Cek keluarga profil PP |
Setelah pelaksanaan |
Didapatkan setidaknya 3 keluarga PP |
|
5. |
Melakukan penyelidikan penyimpang positif |
Cek perilaku khusus keluarga PP |
Setelah pelaksanaan |
Didapatkan pola-pola khusus yang khas dari keluarga |
|
6. |
Merancang kegiatan pos gizi |
Jadwal Tempat Pembagian kerja |
Sebelum pelaksanaan |
Ditetapkan jadwal, tempat, teknis dan pembagian kerja yang jelas |
|
7. |
Implementasi kegiatan pos gizi |
Observasi dan cek list |
Selama dan setelah pelaksanaan |
Kegiatan berjalan lancar, berkesinambungan dan tingkat partisipasi yang tinggi |
B. Evaluasi pelaksanaan
Setiap tahapan kegiatan harus dilaksanakan dengan cermat dan dapat dievaluasi sebelum dilakukan pada tahap selanjutnya, hal ini karena tahapan pendahulu adalah dasar pelaksanaan untuk tahap selanjutnya. Jika pada tahapan awal terjadi masalah akan berpengaruh pada tahap selanjutnya sehingga akan menghambat pelaksanaan tahapan berikutnya.
Evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui efektifitas atau keberhasilan program yang sudah dilaksanakan, atau kelemahan dari program serta menilai apakah tujuan program telah tercapai, selain itu menilai apakah program pembentukan pos gizi ini cukup efektif untuk menyelesaikan permasalahan yang ada yaitu kasus malnutrisi pada balita.
Keberhasilan program terutama dapat diukur dari jumlah balita malnutrisi yang dapat ditingkatkan status gizinya menjadi tidak malnutrisi lagi (80%). Selain itu keberhasilan program juga harus dilihat dari tingkat partisipasi ibu-ibu balita yang setidaknya harus mencapai 80% hadir di pos gizi. Namun yang tidak kalah penting adalah pengamatan terhadap perubahan perilaku pengasuhan balita yang meliputi pola pemberian makan, pola pengasuhan, pola menjaga kebersihan dan pola pencarian pelayanan kesehatan bagi balita oleh ibu balita dan keluarga harus menjadi lebih baik dan tepat dari sebelum pelaksanaan program.
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, A.2004.Kecenderungan masalah gizi dan tantangan di masa datang.
Disampaikan pada Pertemuan Advokasi Program Perbaikan Gizi Menuju Keluarga Sadar Gizi, 27 September 2004. Di hotel Sahid Jaya, Jakarta.
Core.2003.Perilaku Khusus Positif/Pos Gizi (Positive Deviance/Hearth).
Diterjemahkan oleh project Concern International Indonesia.
Depkes RI.2000.Rencana aksi pangan dan gizi nasional 2001-2005.Kerjasama Pemerintah RI dengan WHO.Depkes RI.Jakarta
Dinkes.Laporan Survey Pemantauan Status Gizi Kota ……
Hadju, Veni,dkk.2000.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Malnutrisi Kronik
Pada Anak Baduta Di Sulawesi Selatan.J Med Nus.Volume 21.Hal 71.
Hikam, AS.2000.Sambutan Menteri Riset dan Teknologi.Widyakarya Pangan
dan Gizi VII. LIPI.Jakarta.Hal 13-17.
Latief, D, dkk.2000.Konsumsi pangan tingkat rumah tangga sebelum dan
selama krisis ekonomi. Widyakarya Pangan dan Gizi VII.LIPI.Jakarta.Hal 159-180
Kumar, SP.WHO Global Database on Child Growth and Malnutrition-World
Health Organitation.available from :http://www.who.int//nutgrwothdb>.lastupdate Januari 2007
-------------------------------positive deviance.artikel.available on
www.postivedeviance.org/pdf/PD_bulletinindonesia.pdf.

0 Response to "PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI BIDANG KESEHATAN PEMBERDAYAAN IBU BALITA KELUARGA KURANG MAMPU UNTUK MENGATASI MALNUTRISI PADA BALITA MELALUI PEMBENTUKAN POS GIZI DI KELURAHAN/DESA …… KAB/KOTA…."
Post a Comment