Laporan Pendahuluan Konsep Perioperatif Terbaru 2021
Keperawatan
perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman
fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien. Istilah
perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman
pembedahan yaitu preoperative phase, intraoperative phase dan post operative
phase.
A. AKTIVITAS
KEPERAWATAN DALAM PERAN PERAWAT PERIOPERATIF
PENGKAJIAN :
ü Rumah/Klinik:
-
Melakukan pengkajian
perioperatif awal
-
Merencanakan metode penyuluhan
yang sesuai dengan kebutuhan pasien
-
Melibatkan keluarga
dalam wawancara.
-
Memastikan kelengkapan
pemeriksaan pra operatif
-
Mengkaji kebutuhan
klien terhadap transportasi dan perawatan pasca operatif
ü Unit
Bedah :
-
Melengkapi pengkajian
praoperatif
-
Koordianasi penyuluhan
terhadap pasien dengan staf keperawatan lain.
-
Menjelaskan fase-fase
dalam periode perioperatif dan hal-hal yang diperkirakan terjadi.
-
Membuat rencana asuhan
keperawatan
ü Ruang
operasi :
-
Mengkaji tingkat
kesadaran klien.
-
Menelaah ulang lembar
observasi pasien (rekam medis)
-
Mengidentifikasi pasien
-
Memastikan daerah
pembedahan
ü Perencanaan
:
-
Menentukan rencana
asuhan
-
Mengkoordinasi
pelayanan dan sumber-sumber yang sesuai (contoh: Tim Operasi).
ü Dukungan
Psikologis :
-
Memberitahukan pada
klien apa yang terjadi
-
Menentukan status
psikologis
-
Memberikan isyarat
sebelumnya tentang rangsangan yang merugikan, seperti : nyeri.
-
Mengkomunikasikan
status emosional pasien pada anggota tim kesehatan yang lain yang berkaitan.
B. PEMBEDAHAN
: INDIKASI DAN KLASIFIKASI
Tindakan
pembedahan dilakukan dengan berbagai indikasi, diantaranya adalah :
1. Diagnostik
: biopsi atau laparotomi eksplorasi
2. Kuratif
: Eksisi tumor atau mengangakat apendiks yang mengalami inflamasi
3. Reparatif
: Memperbaiki luka multiple
4. Rekonstruktif/Kosmetik
: mammoplasty, atau bedah platik
5. Palliatif
: seperti menghilangkan nyeri atau memperbaiki masalah, contoh : pemasangan
selang gastrostomi yang dipasang untuk mengkomponsasi terhadap ketidakmampuan
menelan makanan.
C. TINDAKAN
PEMBEDAHAN
Menurut urgensi
dilakukan tindakan pembedahan, maka tindakan pembedahan dapat diklasifikasikan
menjadi 5 tingkatan, yaitu :
1. Kedaruratan/Emergency
Pasien membutuhkan perhatian segera, gangguan mungkin mengancam jiwa. Indikasi
dilakukan pembedahan tanpa di tunda. Contoh : perdarahan hebat, obstruksi
kandung kemih atau usus, fraktur tulang tengkorak, luka tembak atau tusuk, luka
bakar sanagat luas.
2. Urgen
Pasien membutuhkan perhatian segera. Pembedahan dapat dilakukan dalam 24-30
jam. Contoh : infeksi kandung kemih akut, batu ginjal atau batu pada uretra.
3. Diperlukan
Pasien harus menjalani pembedahan. Pembedahan dapat direncanakan dalam beberapa
minggu atau bulan. Contoh : Hiperplasia prostat tanpa obstruksi kandung kemih,Gangguan
tyroid, katarak.
4. Elektif
Pasien harus dioperasi ketika diperlukan. Indikasi pembedahan, bila tidak
dilakukan pembedahan maka tidak terlalu membahayakan. Contoh : perbaikan Scar,
hernia sederhana, perbaikan vaginal.
5. Pilihan
Keputusan tentang dilakukan pembedahan diserahkan sepenuhnya pada pasien. Indikasi
pembedahan merupakan pilihan pribadi dan biasanya terkait dengan estetika.
Contoh : bedah kosmetik.
I.
KEPERAWATAN
PREOPERATIF
Preoperatif
adalah merupakan masa sebelum dilakukannya tindakan pembedahan yang dimulai
sejak ditentukannya persiapan pembedahan dan berakhir sampai pasien berada di
meja bedah.
¥ PERSIAPAN KLIEN DI UNIT
PERAWATAN
A. PERSIAPAN
FISIK
1. Status
kesehatan fisik secara umum
Sebelum
dilakukan pembedahan, penting dilakukan pemeriksaan status kesehatan secara
umum, meliputi identitas klien, riwayat penyakit seperti kesehatan masa lalu,
riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik lengkap, antara lain status
hemodinamika, status kardiovaskuler, status pernafasan, fungsi ginjal dan
hepatik, fungsi endokrin, fungsi imunologi, dan lain-lain. Selain itu pasien
harus istirahat yang cukup, karena dengan istirahat dan tidur yang cukup pasien
tidak akan mengalami stres fisik, tubuh lebih rileks sehingga bagi pasien yang
memiliki riwayat hipertensi, tekanan darahnya dapat stabil dan bagi pasien
wanita tidak akan memicu terjadinya haid lebih awal
2. Status
Nutrisi
Kebutuhan
nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan, lipat kulit
trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah (albumin dan globulin) dan
keseimbangan nitrogen. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus di koreksi
sebelum pembedahan untuk memberikan protein yang cukup untuk perbaikan
jaringan. Kondisi gizi buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai
komplikasi pasca operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di
rumah sakit. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah infeksi pasca
operasi, dehisiensi (terlepasnya jahitan sehingga luka tidak bisa menyatu),
demam dan penyembuhan luka yang lama. Pada kondisi yang serius pasien dapat
mengalami sepsis yang bisa mengakibatkan kematian
3. Keseimbangan
cairan dan elektrolit
Balance cairan
perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan output cairan. Demikaian
juga kadar elektrolit serum harus berada dalam rentang normal. Kadar elektrolit
yang biasanya dilakuakan pemeriksaan diantaranya dalah kadar natrium serum
(normal : 135 -145 mmol/l), kadar kalium serum (normal : 3,5 - 5 mmol/l) dan
kadar kreatinin serum (0,70 - 1,50 mg/dl). Keseimbangan cairan dan elektrolit
terkait erat dengan fungsi ginjal. Dimana ginjal berfungsi mengatur mekanisme
asam basa dan ekskresi metabolit obat-obatan anastesi. Jika fungsi ginjal baik
maka operasi dapat dilakukan dengan baik. Namun jika ginjal mengalami gangguan
seperti oliguri/anuria, insufisiensi renal akut, nefritis akut maka operasi
harus ditunda menunggu perbaikan fungsi ginjal. Kecuali pada kasus-kasus yang
mengancam jiwa.
4. Kebersihan
lambung dan kolon
Lambung dan
kolon harus di bersihkan terlebih dahulu. Intervensi keperawatan yang bisa
diberikan diantaranya adalah pasien dipuasakan dan dilakukan tindakan
pengosongan lambung dan kolon dengan tindakan enema/lavement. Lamanya puasa
berkisar antara 7 sampai 8 jam (biasanya puasa dilakukan mulai pukul 24.00
WIB). Tujuan dari pengosongan lambung dan kolon adalah untuk menghindari
aspirasi (masuknya cairan lambung ke paru-paru) dan menghindari kontaminasi
feses ke area pembedahan sehingga menghindarkan terjadinya infeksi pasca
pembedahan. Khusus pada pasien yang menbutuhkan operasi CITO (segera), seperti
pada pasien kecelakaan lalu lintas. Maka pengosongan lambung dapat dilakukan
dengan cara pemasangan NGT (naso gastric tube).
5. Pencukuran
daerah operasi
Pencukuran pada
daerah operasi ditujukan untuk menghindari terjadinya infeksi pada daerah yang
dilakukan pembedahan karena rambut yang tidak dicukur dapat menjadi tempat
bersembunyi kuman dan juga mengganggu/menghambat proses penyembuhan dan
perawatan luka. Meskipun demikian ada beberapa kondisi tertentu yang tidak
memerlukan pencukuran sebelum operasi, misalnya pada pasien luka incisi pada
lengan. Tindakan pencukuran (scheren) harus dilakukan dengan hati-hati jangan
sampai menimbulkan luka pada daerah yang dicukur. Sering kali pasien di berikan
kesempatan untuk mencukur sendiri agar pasien merasa lebih nyaman. Daerah yang
dilakukan pencukuran tergantung pada jenis operasi dan daerah yang akan
dioperasi. Biasanya daerah sekitar alat kelamin (pubis) dilakukan pencukuran
jika yang dilakukan operasi pada daerah sekitar perut dan paha. Misalnya :
apendiktomi, herniotomi, uretrolithiasis, operasi pemasangan plate pada fraktur
femur, hemmoroidektomi. Selain terkait daerah pembedahan, pencukuran pada
lengan juga dilakukan pada pemasangan infus sebelum pembedahan.
6. Personal
Hygine
Kebersihan tubuh
pasien sangat penting untuk persiapan operasi karena tubuh yang kotor dapat
merupakan sumber kuman dan dapat mengakibatkan infeksi pada daerah yang
dioperasi. Pada pasien yang kondisi fisiknya kuat diajurkan untuk mandi sendiri
dan membersihkan daerah operasi dengan lebih seksama. Sebaliknya jika pasien tidak
mampu memenuhi kebutuhan personal hygiene secara mandiri maka perawat akan
memeberikan bantuan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
7. Pengosongan
kandung kemih
Pengosongan
kandung kemih dilakukan dengan melakukan pemasangan kateter. Selain untuk
pengongan isi bladder tindakan kateterisasi juga diperluka untuk mengobservasi
balance cairan.
8. Latihan
Pra Operasi
Berbagai latihan
sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi, hal ini sangat penting sebagai
persiapan pasien dalam menghadapi kondisi pasca operasi, seperti : nyeri daerah
operasi, batuk dan banyak lendir pada tenggorokan.
Latihan yang
diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain :
v Latihan
Nafas Dalam
Latihan nafas
dalam sangat bermanfaat bagi pasien untuk mengurangi nyeri setelah operasi dan
dapat membantu pasien relaksasi sehingga pasien lebih mampu beradaptasi dengan
nyeri dan dapat meningkatkan kualitas tidur. Selain itu teknik ini juga dapat
meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. Dengan
melakukan latihan tarik nafas dalam secara efektif dan benar maka pasien dapat
segera mempraktekkan hal ini segera setelah operasi sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan pasien. Latihan nafas dalam dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut
:
1. Pasien
tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk (semifowler) dengan lutut ditekuk
dan perut tidak boleh tegang.
2. Letakkan
tangan diatas perut
3. Hirup
udara sebanyak-banyaknya dengan menggunakan hidung dalam kondisi mulut tertutup
rapat
4. Tahan
nafas beberapa saat (3-5 detik) kemudian secara perlahan-lahan, udara
dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui mulut.
5. Lakukan
hal ini berulang kali (15 kali)
6. Lakukan
latihan dua kali sehari praopeartif
v Latihan
Batuk Efektif
Latihan batuk
efektif juga sangat diperlukan bagi klien terutama klien yang mengalami operasi
dengan anstesi general. Karena pasien akan mengalami pemasangan alat bantu
nafas selama dalam kondisi teranstesi. Sehingga ketika sadar pasien akan
mengalami rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Dengan terasa banyak lendir
kental di tenggorokan. Latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien
setalah operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret tersebut. Pasien dapat
dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara :
1. Pasien
condong ke depan dari posisi semifowler, jalinkan jari-jari tangan dan letakkan
melintang diatas incisi sebagai bebat ketika batuk
2. Kemudian pasien nafas dalam seperti cara nafas
dalam (3-5 kali)
3. Segera
lakukan batuk spontan, pastikan rongga pernafasan terbuka dan tidak hanya batuk
dengan mengadalkan kekuatan tenggorokan saja karena bisa terjadi luka pada
tenggorokan. Hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, namun tidak berbahaya
terhadap incisi.
4. Ulangi
lagi sesuai kebutuha
5. Jika
selama batuk daerah operasi terasa nyeri, pasien bisa menambahkan dengan
menggunakan bantal kecil atau gulungan handuk yang lembut untuk menahan daerah
operasi dengan hati-hati sehingga dapat mengurangi guncangan tubuh saat batuk.
v Latihan
Gerak Sendi
Keuntungan:
1. Lebih
cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga pasien akan lebih cepat kentut/flatus
2. Menghindarkan
penumpukan lendir pada saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi
dan terjadinya dekubitus
3. memperlancar
sirkulasi untuk mencegah stasis vena dan menunjang fungsi pernafasan optimal.
B. PERSIAPAN
PENUNJANG
Dibawah ini adalah
berbagai jenis pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan pada pasien sebelum
operasi (tidak semua jenis pemeriksaan dilakukan terhadap pasien, namun
tergantung pada jenis penyakit dan operasi yang dijalani oleh pasien).
Pemeriksaan penunjang antara lain :
1. Pemeriksaan
Radiologi dan diagnostik, seperti : Foto thoraks, abdomen, foto tulang (daerah
fraktur), USG (Ultra Sono Grafi), CT scan (computerized Tomography Scan) , MRI
(Magnrtic Resonance Imagine), BNO-IVP, Renogram, Cystoscopy, Mammografi, CIL (Colon
in Loop), EKG/ECG (Electro Cardio Grafi), ECHO, EEG (Electro Enchephalo Grafi),
dll.
2. Pemeriksaan
Laboratorium, berupa pemeriksaan darah : hemoglobin, angka leukosit, limfosit,
LED (laju enap darah), jumlah trombosit, protein total (albumin dan globulin),
elektrolit (kalium, natrium, dan chlorida), CT/BT, ureum kretinin, BUN, dll.
Bisa juga dilakukan pemeriksaan pada sumsun tulang jika penyakit terkaut dengan
kelainan darah.
3. Biopsi,
yaitu tindakan sebelum operasi berupa pengambilan bahan jaringan tubuh untuk
memastikan penyakit pasien sebelum operasi. Biopsi biasanya dilakukan untuk
memastikan apakah ada tumor ganas/jinak atau hanya berupa infeksi kronis saja.
4. Pemeriksaan
Kadar Gula Darah (KGD).
5. Pemeriksaan
KGD dilakukan untuk mengetahui apakah kadar gula darah pasien dalan rentang
normal atau tidak. Uji KGD biasanya dilakukan dengan puasa 10 jam (puasa jam 10
malam dan diambil darahnya jam 8 pagi) dan juga dilakukan pemeriksaan KGD 2 jam
PP (ppst prandial).
C. PEMERIKSAAN
STATUS ANASTESI
Pemeriksaan yang
biasa digunakan adalah pemeriksaan dengan menggunakan metode ASA (American
Society of Anasthesiologist). Pemeriksaan ini dilakukan karena obat dan teknik
anastesi pada umumnya akan mengganggu fungsi pernafasan, peredaran darah dan
sistem saraf.
Berikut pemeriksaan
ASA :
1. ASA
grade I
Status fisik : Tidak ada gangguan organik,
biokimia dan psikiatri.
Misal : penderita dengan herinia ingunalis
tanpa kelainan lain, orang tua sehat, bayi muda yang sehat.
Mortality
(%) : 0,05
2. ASA
grade II
Status
fisik : Gangguan sistemik
ringan sampai sedang yang bukan diseababkan oleh penyakit yang akan dibedah.
Misal : penderita dengan obesitas,
penderita dengan bronkitis dan penderita dengan diabetes mellitus ringan yang
akan mengalami appendiktomi
Mortality
(%) : 0,4
3. ASA
grade III
Status
fisik : Penyakit sistemik
berat;
misal : penderita diabetes mellitus dengan
komplikasi pembuluh darah dan datang dengan appendisitis akut.
Mortality
(%) : 4,5.
4. ASA
grade IV
Status
fisik : Penyakit/gangguan
sistemik berat yang menbahayakan jiwa yang tidak selalu dapat diperbaiki dengan
pembedahan
misalnya
: insufisiensi koroner atau infark
miokard
Mortality
(%) : 25
5. ASA
grade V
Status
fisik : Penyakit/gangguan
sistemik berat yang menbahayakan jiwa yang tidak selalu dapat diperbaiki dengan
pembedahan
misalnya : insufisiensi koroner atau infark miokard
Mortality (%) :
50.
D. INFORM
CONSENT
setiap pasien
yang akan menjalani tindakan medis, wajib menuliskan surat pernyataan
persetujuan dilakukan tindakan medis (pembedahan dan anastesi). Inform Consent
sebagai wujud dari upaya rumah sakit menjunjung tinggi aspek etik hukum, maka
pasien atau orang yang bertanggung jawab terhdap pasien wajib untuk
menandatangani surat pernyataan persetujuan operasi. Artinya apapun tindakan
yang dilakukan pada pasien terkait dengan pembedahan, keluarga mengetahui
manfaat dan tujuan serta segala resiko dan konsekuensinya
E. PERSIAPAN
MENTAL/PSIKIS
Contoh perubahan
fisiologis yang muncul akibat kecemasan dan ketakutan antara lain :
-
Pasien dengan riwayat
hipertensi jika mengalami kecemasan sebelum operasi dapat mengakibatkan pasien
sulit tidur dan tekanan darahnya akan meningkat sehingga operasi bisa
dibatalkan
-
Pasien wanita yang
terlalu cemas menghadapi operasi dapat mengalami menstruasi lebih cepat dari
biasanya, sehingga operasi terpaksa harus ditunda.
Berbagai alasan
yang dapat menyebabkan ketakutan/kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan
antara lain :
-
Takut nyeri setelah
pembedahan
-
Takut terjadi perubahan
fisik, menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi normal (body image)
-
Takut keganasan (bila
diagnosa yang ditegakkan belum pasti)
-
Takut/cemas mengalami
kondisi yang sama dengan orang lain yang mempunyai penyakit yang sama.
-
Takut/ngeri menghadapi
ruang operasi, peralatan pembedahan dan petugas.
-
Takut mati saat dibius/tidak
sadar lagi.
-
Takut operasi gagal.
Ketakutan dan kecemasan yang mungkin dialami pasien
dapat dideteksi dengan adanya perubahan-perubahan fisik seperti :
-
meningkatnya frekuensi
nadi dan pernafasan
-
gerakan-gerakan tangan yang tidak terkontrol
-
telapak tangan yang
lembab
-
gelisah
-
menayakan pertanyaan
yang sama berulang kali
-
sulit tidur
-
sering berkemih
Untuk mengurangi / mengatasi kecemasan pasien,
perawat dapat menanyakan hal-hal yang terkait dengan persiapan operasi, antara
lain :
-
Pengalaman operasi sebelumnya
-
Persepsi pasien dan
keluarga tentang tujuan/alasan tindakan operasi
-
Pengetahuan pasien dan
keluarga tentang persiapan operasi baik fisik maupun penunjang
-
Pengetahuan pasien dan
keluarga tentang situasi/kondisi kamar operasi dan petugas kamar operasi
-
Pengetahuan pasien dan
keluarga tentang prosedur (pre, intra, post operasi)
-
Pengetahuan tentang
latihan-latihan yang harus dilakukan sebelum operasi dan harus dijalankan
setalah operasi, seperti : latihan nafas dalam, batuk efektif, ROM, dll.
Peranan perawat dalam memberikan dukungan mental
dapat dilakukan dengan berbagai cara:
-
Membantupasien
mengetahui tentang tindakan-tindakan yang dialami pasien sebelum operasi,
memberikan informasi pada pasien tentang waktu operasi, hal-hal yang akan
dialami oleh pasien selama proses operasi, menunjukkan tempat kamar operasi,
dll.
-
Dengan mengetahui
berbagai informasi selama operasi maka diharapkan pasien mejadi lebih siap
menghadapi operasi, meskipun demikian ada keluarga yang tidak menghendaki
pasien mengetahui tentang berbagai hal yang terkait dengan operasi yang akan
dialami pasien
-
Memberikan penjelasan
terlebih dahulu sebelum setiap tindakan persiapan operasi sesuai dengan tingkat
perkembangan. Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas. Misalnya: jika pasien
harus puasa, perawat akan menjelaskan kapan mulai puasa dan samapai kapan,
manfaatnya untuk apa, dan jika diambil darahnya, pasien perlu diberikan
penjelasan tujuan dari pemeriksaan darah yang dilakukan, dll. Diharapkan dengan
pemberian informasi yang lengkap, kecemasan yang dialami oleh pasien akan dapat
diturunkan dan mempersiapkan mental pasien dengan baik
-
Memberi kesempatan pada
pasien dan keluarganya untuk menanyakan tentang segala prosedur yang ada. Dan
memberi kesempatan pada pasien dan keluarga untuk berdoa bersama-sama sebelum
pasien di antar ke kamar operasi.
-
MengoreksiØ
pengertian yang saah tentang tindakan pembedahan dan hal-hal lain karena
pengertian yang salah akan menimbulkan kecemasan pada pasien.
KolaborasiØ
dengan dokter terkait dengan pemberian obat pre medikasi, seperti valium dan
diazepam tablet sebelum pasien tidur untuk menurunkan kecemasan dan pasien
dapat tidur sehingga kebutuhan istirahatnya terpenuhi.
-
Pada saat pasien telah
berada di ruang serah terima pasien di kamar operasi, petugas kesehatan di situ
akan memperkenalkan diri sehingga membuat pasien merasa lebih tenang.
-
Untuk memberikan
ketenangan pada pasien, keluarga juga diberikan kesempatan untuk mengantar
pasien sampai ke batas kamar operasi dan diperkenankan untuk menunggu di ruang
tunggu yang terletak di depan kamar operasi.
F. OBAT-OBATAN
PRE MEDIKASI
-
Sebelum operasi
dilakukan pada esok harinya. Pasien akan diberikan obat-obatan premedikasi
untuk memberikan kesempatan pasien mendapatkan waktu istirahat yang cukup
-
Obat-obatan premedikasi
yang diberikan biasanya adalah valium atau diazepam.
-
Antibiotik profilaksis
biasanya di berikan sebelum pasien di operasi.
-
Antibiotik profilaksis
yang diberikan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya infeksi selama tindakan
operasi, antibiotika profilaksis biasanya di berikan 1-2 jam sebelum operasi
dimulai dan dilanjutkan pasca bedah 2- 3 kali.
-
Antibiotik yang dapat
diberikan adalah ceftriakson 1gram dan lain-lain sesuai indikasi pasien.
¥ ASUHAN KEPERAWATAN
PREOPERATIF
A. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara
menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).
Pengkajian
pasien Pre operatif (Marilynn E. Doenges, 1999) meliputi:
1. Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular
perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus.
2. Integritas
ego
Gejala :
perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya
financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak
dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.
3. Makanan
/ cairan
Gejala :
insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ;
malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan
pemasukkan / periode puasa pra operasi).
4. Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
5. Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ;
Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan)
; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang
hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari
detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse
darah / reaksi transfuse.
Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
6. Penyuluhan
/ Pembelajaran
Gejala :
pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik
glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic,
antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas,
atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan
ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial
bagi penarikan diri pasca operasi).
B. DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Diagnosa
keperawatan yang muncul pada pasien Pre Operatif (Wilkinson, M. Judith, 2006)
meliputi :
1. Ansietas
berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan
status kesehatan, ancaman terhadap pola interaksi dengan orang yang berarti,
krisis situasi atau krisis maturasi.
2. Gangguan
citra tubuh berhubungan dengan pembedahan, efek samping penanganan, factor
budaya atau spiritual yang berpengaruh pada perubahan penampilan.
3. Koping
individu, ketidakefektifan berhubungan dengan perubahan penampilan, keluhan
terhadap reaksi orang lain, kehilangan fungsi, diagnosis kanker.
4. Proses
keluarga, perubahan berhubungan dengan terapi yang kompleks,
hospitalisasi/perubahan lingkungan, reaksi orang lain terhadap perubahan
penampilan.
5. Ketakutan
berhubungan dengan proses penyakit/prognosis (misalnya kanker),
ketidakberdayaan.
6. Mobilitas
fisik, hambatan berhubungan dengan penurunan rentang gerak, kerusakan
saraf/otot, dan nyeri.
C. INTERVENSI
DAN IMPLEMENTASI
Intervensi dan
implementasi keperawatan pasien Pre Operatif (Wilkinson, M. Judith, 2006)
adalah :
1. Ansietas
adalah suatu keresahan, perasaan ketidaknyamanan yang tidak mudah atau dread
yang disertai dengan respons autonomis ; sumbernya seringkali tidak spesifik
atau tidak diketahui oleh individu ; perasaan khawatir yang disebabkan oleh
antisipasi terhadap bahaya.ini merupakan tanda bahya yang memperingatkan bahaya
yang akan terjadi dan memampukan individu untuk membuat pengukuran untuk
mengatasi ancaman.
Tujuan
: ansietas berkurang/terkontrol.
Kriteria
hasil :
ü klien
mampu merencanakan strategi koping untuk situasi-situasi yang membuat stress.
ü klien
mampu mempertahankan penampilan peran.
ü klien
melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori.
ü klien
melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.
ü tidak
ada manifestasi perilaku akibat kecemasan
Intervensi dan
implementasi
ü Kaji
dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.
R : memudahkan
intervensi.
ü Kaji
mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu.
R :
mempertahankan mekanisme koping adaftif, meningkatkan kemampuan mengontrol
ansietas.
ü Lakukan
pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaan.
R : pendekatan
dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang
dirasakan.
ü Motivasi
pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapa-harapan
yang positif terhadap terapy yang di jalani.
R : alat untuk
mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan.
ü Berikan
penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun dalam
keadaan cemas.
R : menciptakan
rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu mengatasi masalahnya dan
memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan dengan pengakuan orang lain
atas kemampuannya.
ü Anjurkan
pasien untuk menggunakan teknik relaksasi.
R : menciptakan
perasaan yang tenang dan nyaman.
ü Sediakan
informasi factual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut
diagnosis, perawatan dan prognosis.
R : meningkatkan
pengetahuan, mengurangi kecemasan.
ü Kolaborasi
pemberian obat anti ansietas.
R : mengurangi ansietas
sesuai kebutuhan.
2. Gangguan
citra tubuh adalah konfusi pada gaambaran mental dari fisik seseorang.
Tujuan : pasien memiliki persepsi
yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
Kriteria hasil :
ü pasien
melaporkan kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
ü memiliki
keinginan untuk menyentuh bagian tubuh yang mengalami gangguan.
ü menggambarkan
perubahan actual pada fungsi tubuh
Intervensi dan
Implementasi
ü Kaji
dan dokumentasikan respons verbal dan non verbal pasien tentang tubuhnya.
R : factor yang mengidentifikasikan adanya gangguan persepsi pada citra tubuh.
ü Kaji
harapan pasien tentang gambaran tubuh.
R : mungkin
realita saat ini berbeda dengan yang diharapkan pasien sehingga pasien tidak
menyukai keadaan fisiknya.
ü Dengarkan
pasien dan keluarga secara aktif, dan akui realitas adanya perhatian terhadap
perawatan, kemajuan dan prognosis.
R : meningkatkan
perasaan berarti, memudahkan saran koping, mengurangi kecemasan.
ü Berikan
perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, jaga privasi dan martabat pasien.
R : menciptakan
suasana saling percaya, meningkatkan harga diri dan perasaan berarti dalam diri
pasien.
3. Koping
individu, ketidakefektifan adalah ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat
terhadap stressor, pilihan respons untuk bertindak secara tidak adekuat, dan
atau ketidakmampuan untuk menggunakan sumber yang tersedia.
Tujuan
: pasien menunjukkan koping yang efektif.
Kriteria
hasil :
ü pasien
akan menunjukkan minat terhadap aktivitas untuk mengisi waktu luang.
ü mengidentifikasikan
kekuatan personal yang dapat mengembangkan koping yang efektif.
ü menimbang
serta memilih diantara alternative dan konsekuensinya.
ü berpartisipasi
dalam aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS).
Intervensi dan
Implementasi :
ü Kaji
pandangan pasien terhadap kondisinya dan kesesuaiannya dengan pandangan pemberi
pelayanan kesehatan.
R :
mengidentifikasi persepsi pasien terhadap kondisinya.
ü Gunakan
pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
R : menghindari
ketakutan dan menciptakan hubungan saling percaya, memudahkan intervensi
ü Anjurkan
pasien untuk mengidentifikasi gambaran perubahan peran yang realitas.
R : memberikan arahan pada persepsi pasien tentang kondisi nyata yang ada saat
ini.
ü Bantu
pasien dalam mengidentifikasi respons positif dari orang lain.
R : meningkatkan perasaan berarti, memberikan penguatan yang positif.
ü Libatkan
sumber-sumber yang ada di rumah sakit dalam memberikan dukungan emosional untuk
pasien dan keluarga.
R : menciptakan
suasana saling percaya, perasaan berarti, dan mengurangi kecemasan.
4.
Proses keluarga,
perubahan adalah suatu perubahan dalam hubungan dan/atau fungsi keluarga.
Tujuan
: pasien dan keluarga memahami perubahan perubahan dalam peran keluarga.
Kriteria hasil :
ü pasien/keluarga
mampu mengidentifikasi koping
ü paien/keluarga
berpartisipasi dalam proses membuat keputusan berhubungan dengan perawatan
setelah rawat inap.
Intervensi dam
Implementasi:
ü Kaji
interaksi antara pasien dan keluarga.
R :
mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
ü Bantu
keluarga dalam mengidentifikasi perilaku yang mungkin menghambat pengobatan.
R : mempengaruhi pilihan intervensi.
ü Diskusikan
dengan anggota keluarga tentang tambahan ketrampilan koping yang digunakan.
R : membantu
keluarga dalam memilih mekanisme koping adaptif yang tepat .
ü Dukung
kesempatan untuk mendapatkan pengalaman masa anak-anak yang normal pada anak
yang berpenyakit kronis atau tidak mampu.
R : memudahkan keluarga dalam menciptakan/memelihara fungsi anggota keluarga.
5.
Ketakutan adalah
ansietas yang disebabkan oleh sesuatu yang dikenali secara sadar dan bahaya
nyata dan dipersepsikan sebagai bahaya yang nyata.
Tujuan
: pasien akan memperlihatkan
pengendalian ketakutan.
Kriteria hasil :
ü mencari
informasi untuk menurunkan ketakutan
ü menggunakan
teknik relaksasi untuk menurnkan ketakutan.
ü mempertahankan
penampilan peran dan hubungan social.
Intervensi dam
Implementasi :
ü Kaji
respons takut subjektif dan objektif pasien.
R :
mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
ü Berikan
penguatan positif bila pasien mendemonstrasikan perilaku yang dapat menurunkan
atau mengurangi takut.
R :
mempertahankan perilaku koping yang efektif.
ü Lakukan
pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaan.
R : pendekatan
dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang
dirasakan.
ü Motivasi
pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-harapan
yang positif terhadap terapy yang di jalani.
R : alat untuk
mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan.
6.
Mobilitas fisik,
hambatan adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian, pergerakkan fisik yang
bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih.
Tujuan : pasien akan menunjukkan
tingkat mobilitas optimal.
Kriteria hasil :
ü penampilan
yang seimbang
ü melakukan
pergerakkan dan perpindahan.
ü mempertahankan
mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik:
0 = mandiri
penuh
1 = memerlukan
alat Bantu.
2 = memerlukan
bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran.
3 =membutuhkan
bantuan dari orang lain dan alat Bantu.
4 =ketergantungan;
tidak berpartisipasi dalam aktivitas.
Intervensi dam
Implementasi
ü Kaji
kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.
R : mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
ü Tentukan
tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.
R : mempengaruhi
penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah
ketidakmauan.
ü Ajarkan
dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu
R : menilai
batasan kemampuan aktivitas optimal.
ü Ajarkan
dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.
R :
mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.
ü Kolaborasi
dengan ahli terapi fisik atau okupasi.
R : sebagai
suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan
mobilitas pasien.
D.
EVALUASI
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Pre Operasi Tumor adalah :
1. Ansietas
berkurang/terkontrol.
2. Pasien
memiliki persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
3. Pasien
menunjukkan koping yang efektif.
4. Pasien
dan keluarga memahami perubahan perubahan dalam peran keluarga.
5. Pasien
akan memperlihatkan pengendalian ketakutan.
6. Pasien
akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
II.
PERAWATAN
INTRAOPERATIF
Fase intraoperatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindah
ke instalasi bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang
pemulihan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan mencakup :
-
pemasangan IV cath
-
pemberian medikasi intaravena
-
melakukan pemantauan kondisi fisiologis menyeluruh
sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien
-
Contoh : memberikan dukungan psikologis selama induksi
anstesi, bertinda k sebagai perawat scrub, atau membantu mengatur posisi
pasien di atas meja operasi denganmenggunakan prinsip-prinsip dasar
kesimetrisan tubuh.
Perawat
yang bekerja di kamar bedah harus telah mengambil program proregristation education courses in anasthetic and operating theater
nursing. Dalam pembedahan
perawat disebut scrubbed nurse
yang bertindak sebagai asisten ahli bedah. Perawat bertanggung jawab akan
pemeliharaan sterilitas daerah pembedahan dan instrument dan menjamin
ketersediaan peralatan ahli bedah untuk terlaksananya pembedahan
yangdirencanakan. Circulating nurse
bertanggung jawab untuk menjamin terpenuhinya perlengkapanyang dibutuhkan oleh
scrubbed nurse dan bertanggung jawab terhadap observasi dan
perawatan pasien tanpa menimbulkan kontaminasi daerah steril.
TAHAP INTRAOPERATIF
1.
Ruang
Sementara (Holding area)
Perawat dapat
menjelakan tahap-tahap yang akan dilaksanakan untuk menyiapkan klien menjalani
pembedahan. Perawat diruang tahanan
sementara biasanya adalah bagian dari petugas ruang oprasi dan menggunakan
pakaian, topi, dan alas kaki khusus ruang oprasi sesuai dengan kebijakan
pengontrolan infeksi rumah sakit. Pada beberapa tempat bedah sehari, perawat
primer perioperatif menerima kedatangan klien, menjadi perawat sirkulator
selama prosedur berlangsung, dan mengelola pemulihan serta kepulangan klien.
Di dalam ruangan
tahanan sementara, perawat, anestesi, atau ahli anestesi memasang kateter infus
ke tangan klien untuk memberikan prosedur rutin penggantian cairan dan
obat-obatan melalui intravena. Biasanya menggunakan kateter IV yang berukuran
besar agar pemasukan cairan menjadi lebih mudah. Perawat juga memasang manset
tekanan darah. Manset juga terpasang pada lengan klien selama pembedahan
berlangsung sehingga ahli anestesi dapat mengkaji tekanan darah klien.
2.
Kedatangan
ke Ruang Operasi
Perawat ruang
opersi identifikasi dan kardeks klien, melihat kembali lembar persetujuan
tindakan, riwayat kesehatan, hasil pemeriksaan fisik, dan berbagai hasil
pemeriksaan. Pastikan bahwa alat prostese dan barang berharga telah dilepas dan
memeriksa kembali rencana perawatan preoperatif yang berkaitan dengan intraoperatif.
3.
Pemberian
Anestesi
a. Anestesi
Umum
Klien yang
mendapat anestesi umum akan kehilangan seluluh sensasi dan kesadarannya.
Relaksasi mempermudah manipulasi anggota tubuh. Klien juga mengalami amnesia
tentang seluruh proses yang terjadi selama pembedahan yang menggunakan anestesi
umum melibatkan prosedur mayor, yang membutuhkan manipulasi jaringan yang luas.
Ahli anestesi
memberi anestesi umum melalui jalur IV dan inhalasi melalui empat tahap
anestesi. Tahap 1 dimulai saat klien
masih sadar. Klien menjadi pusing dan kehilangan kesadaran secara bertahap, dan
status analgesic dimulai. Tahap 2 adalah eksitasi. Otot kilen kadang-kadang
menegang dan hampir kejang. Reflek
menelan dan mudah tetap ada, dan pola nafas klien mungkin menjadi tidak
teratur. Tahap 3 dimulai pada saat irama
pernafasan mulai teratur. Fungsi vital
terdepresi. Tahap 4 adalah tahap depresi pernafasan lengkap.
b. Anestesi
Regional
Induksi anestesi
regional menyebabkan hilangnya sensasi pada daerah tubuh tertentu. Selama pembedaan berlangsung klien dengan
anestesi regional akan tetap sadar kecuali jika dokter memprogramkan pemberian
tranquilizer yang dapat menyebabkan klien tidur. Perawat harus ingat bahwa luka
bakar dan cidera lainnya dapat terjadi pada bagian tubuh yang berada dibawah pengaruh
anestesi tanpa disadari oleh klien. Oleh
karena itu posisi ekstermitas dan kondisi kulit klien perlu sering observasi.
c. Anestesi
Lokal
Anestesi lokal
menyebabkan hilangnya sensasi pada tempat yang diinginkan (mis, adanya sel
tumbuh pada kulit atau kornea mata).
Obat anestesi (mis, lidokain ) menghambat konduksi saraf sampai obat
terdifusi kedalam sirkulasi. Klien akan
kehilangan rasa nyeri dan sentuhan, aktifitas motorik, dan otonom.
4.
Pengaturan
Posisi Klien Selama Pembedahan
Prinsip tindakan keperawatan
selama pelaksanaan operasi yaitu pengaturan posisi karena posisi yang diberikan perawat
akan mempengaruhi rasa nyaman pasien dan keadaan psikologis pasien.
Faktor yang penting untuk diperhatikan dalam pengaturan
posisi pasien adalah :
§ Letak bagian tubuh yang akan
dioperasi.
§ Umur dan ukuran tubuh pasien.
§ Tipe anaesthesia yang digunakan.
§ Nyeri/Sakit yang mungkin dirasakan
oleh pasien bila ada pergerakan (arthritis).
Hal-hal yang dilakukan
oleh perawat terkait dengan pengaturan posisi pasien meliputi :
a. Kesejajaran
fungsional
Maksudnya adalah
memberikan posisi yang tepat selama operasi. Operasi yang berbeda akan
membutuhkan posisi yang berbeda pula. Contoh :
§ Supine
(dorsal recumbent) : hernia, laparotomy, laparotomy eksplorasi, appendiktomi,
mastectomy atau pun reseksi usus.
§ Pronasi
: operasi pada daerah punggung dan spinal. Misal : Lamninectomy
§ Trendelenburg
: dengan menempatkan bagian usus diatas abdomen, sering digunakan untuk operasi
pada daerah abdomen bawah atau pelvis.
§ Lithotomy
: posisi ini mengekspose area perineal dan rectal dan biasanya digunakan untuk
operasi vagina. Dilatasi dan kuretase dan pembedahan rectal seperti :
Hemmoiroidektomy
§ Lateral
: digunakan untuk operasi ginjal, dada dan pinggul.
b. Pemajanan
area pembedahan
Pemajanan daerah bedah
maksudnya adalah daerah mana yang akan dilakukan tindakan pembedahan. Dengan
pengetahuan tentang hal ini perawat dapat mempersiapkan daerah operasi dengan
teknik drapping
c. Mempertahankan
posisi sepanjang prosedur operasi
Posisi pasien di meja
operasi selama prosedur pembedahan harus dipertahankan sedemikian rupa. Hal ini
selain untuk mempermudah proses pembedahan juga sebagai bentuk jaminan
keselamatan pasien dengan memberikan posisi fisiologis dan mencegah terjadinya
injury.
5. Peran Perawat Selama
Pembedahan
a.
Perawat instrumentator
(scrub nurse)
Perawat
instrumentator (scrub nurse) atau perawat sirkulator memberikan intrumen dan
bahan-bahan yang di butuhkan oleh dokter bedah selam pembedahan berlangsung
dengan menggunakn tehnik aspek pembedahan yang ketat dan terbiasa dengan
intrumen pembedahan.
b.
Perawat Sirkulator
Perawat
Sirkulator adalah asisten perawat intrumentator dan dokter bedah. Perawat
sirkulator membantu mengatur posisi klien dan menyediakan alat dan duk bedah yang di butuhkan dalam pembedahan.
Perawat sirkulator menyediakan bahan-bahan yang di butuhkan perawat
instrumentator, membuang alat dan spon kasa yang telah kotor, serta tetap
hitung instrument jarum dan spon kasa yang telah di gunakan. Perawat sirkulator
juga dpat membantu mengubah posisi klien atau memindahkan posisi lampu opersi.
Perawat sirkulator juga menggunakan teknik aseptik bedah. Apabila teknik
aseptik telah hilang, Perawat sirkulator membantu anggota tim bedah dengan
mengganti dan memakai gaun dan sarung tangan steril. Prosedur ini mencegah
tertinggalnay bahan-bahan tersebut di dalam luka bedah klien.
ASUHAN KEPERAWATAN
INTRAOPERATIF
1. Pengkajian
Keperawatan
Salah satu hal
yang perlu di kaji dalam intra bedah adalah pengaturan posisi pasien. Berbagai
masalah yang terjadi selama pembedahan mencakup aspek pemantauan fisiologis,
perubahan tanda vital, system, kardiovaskular keseimbnagan cairan, dan
pernafasan.
2. Diagnosis
Keperawatan
Risiko
terjadinya cedera berhubungan dengan prosedur pembedahan.
3. Perencanaan
Keperawatan
Tujuan
Setelah
dilakukan tindakan keperwatan selam 1 x 24 jam, masalah resiko terjadinya
cidera pada pasien dapat tertasi.
Kriteria Hasil
1. Tidak
terjadinya resiko cedera pada pasien
2. Pasien
dapat beraktivitas dengan nyaman dan aman
Rencana tindakan
1. Gunakan
semua alat atau instrument untuk tindakan pembedahan seperti pemakaian baju
bedah, tutup kepala, masker, penutup sepatu, celemek, dan sarung tangan, serta
penyucian tangan.
2. Lakukan
Persiapan pelaksanaan anestesi sebelum tindakan pembedahan
3. Lakukan
pemantauan selama masa tindakan pembedahan
4.
Pelaksanaan (tindakan )
keperawatan
a. Menggunakan
baju seragam
Penggunaan baju
seragam bedah didesain secara khusus dengan harapan dapat mencegah kontaminasi
dari luar, berprinsip bahwa semua baju dari luar diganti dengan baju bedah yang
steril, atau baju harus dimasukan kedalam celana, atau harus menutupi pinggang
untuk mengurangi menyebarnya bakteri, dan gunakan tutup kepala, masker, sarung
tangan, serta celemek steril.
b. Mencuci
Tangan Sebelum Pembedahan
§ Gunakan
air mengalir dari kran
§ Sikat
tangan secara sistemati, satu per satu jari dicuci
§ Sikat
kuku dan lengan bahwa sampai siku
§ Ulangi
lagi beberapa kali : dengan selam 10
menit ; dengan larutan desinfektan
standar selama 3-5 menit
§ Tutup
kran dengan siku (buka seperti biasanya menutup kran)
§ Posisikan
tangan selau lebih tinggi dari siku
§ Ambil
handuk tangan steril, keringkan urut mulai tangan, pergelangan, hingga siku,
lalu jatuhkan handuk.
c. Menerima
Pasien di Daerah Bedah
Sebelum memasuki
wialyah bedah, pasien harus melakukan pemeriksaan ulang di ruang penerimaan
untuk megecek kembali nama, bedah yang akan dilakukan, nomor status registrasi
pasien, berbagi hasil laboratorium dan x-ray, persiapan darah setelah dilakukan
pemerikasaan silang dan golongan darah, alat protesa, dan lain-lain.
d. Pengiriman
dan Pengaturan Posisi ke Kamar Bedah
Posisi
yang dianjurkan pada umumnya adalah telentang, telungkup, trendelenburg,
lithotomi, lateral, dan lain-lain.
e.
Pembersihan dan
Persiapan Kulit
Pelaksanaan
ini bertujuan untuk membuat daerah yang akan dibedah bebas dari kotoran dan
lemak kulit serta mengurangi adanya mikroba.
Bahan yang digunakn dalam pembersihan kulit ini harus memiliki spectrum
khasiat, memiliki kecepatan khasiat, atau memiliki potensi yang baik serta
tidak menurun bila adanya kadar alcohol, sabun detergen, atau bahan organik
lainya.
f.
Penutupan daerah Steril
Penutupan
daerah steril dilakukan dengan menggunakan doek steril agar daerah seputar
bedah tetap steril dan mencegah berpindahnya mikroorganisme antara daerah yang
steril dan tidak.
g.
Pelaksanaan Anestesi
Terdiri dari anestesi umum, anestesi
regional, dan anestesi lokal.
h.
Pelaksanaan Pembedahan
Setelah
dilakukan anestesi, timbedah akan melaksanakan pembedahan sesuai dengan
ketentuan pembedahan.
5.
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi
terhadap masalah intrabedah secara umum dapat dinilai dari adanya kemampuan
dalam mempertahankan status kesehatan, seperti normalnya tanda vital,
kardiovaskular, pernapasan, ginjal, dan lain-lain.
III.
PERAWATAN
POST OPERATIF
Keperawatan
post operatif adalah periode akhir dari keperawatan perioperatif. Selama
periode ini proses keperawatan diarahkan pada menstabilkan kondisi pasien pada
keadaan equlibrium fisiologis pasien, menghilangkan nyeri dan pencegahan
komplikasi. Pengkajian yang cermat dan intervensi segera membantu pasien
kembali pada fungsi optimalnya dengan cepat, aman dan nyaman.
TAHAPAN KEPERAWATAN
POST OPERATIF
Perawatan
post operatif meliputi beberapa tahapan, diantaranya adalah :
-
Pemindahan pasien dari
kamar operasi ke unit perawatan pasca anastesi (recovery room),
-
Perawatan post anastesi
di ruang pemulihan (recovery room)
-
Transportasi pasien ke
ruang rawat,
-
Perawatan di ruang
rawat.
1.
PEMINDAHAN
PASIEN DARI KAMAR OPERASI KE RUANG PEMULIHAN
Pemindahan
pasien dari kamar operasi ke ruang pemulihan atau unit perawatan pasca anastesi
(PACU: post anasthesia care unit) memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus.
Pertimbangan itu diantaranya adalah letak incisi bedah, perubahan vaskuler dan
pemajanan. Letak incisi bedah harus selalu dipertimbangkan setiap kali pasien
pasca operatif dipidahkan. Banyak luka ditutup dengan tegangan yang cukup
tinggi, dan setiap upaya dilakukan untuk mencegah regangan sutura lebih lanjut.
Selain itu pasien diposisikan sehingga ia tidak berbaring pada posisi yang
menyumbat drain dan selang drainase.
Hipotensi arteri
yang serius dapat terjadi ketika pasien digerakkan dari satu posisi ke posisi
lainnya. Seperti posisi litotomi ke posisi horizontal atau dari posisi lateral
ke posisi terlentang. Bahkan memindahkan pasien yang telah dianastesi ke
brankard dapat menimbulkan masalah gangguan vaskuler juga. Untuk itu pasien
harus dipindahkan secara perlahan dan cermat. Segera setelah pasien dipindahkan
ke barankard atau tempat tidur, gaun pasien yang basah (karena darah atau
cairan lainnnya) harus segera diganti dengan gaun yang kering untuk menghindari
kontaminasi. Selama perjalanan transportasi tersebut pasien diselimuti dan
diberikan pengikatan diatas lutut dan siku serta side rail harus dipasang untuk
mencegah terjadi resiko injury. Selain hal tersebut diatas untuk mempertahankan
keamanan dan kenyamanan pasien. Selang dan peralatan drainase harus ditangani
dengan cermat agar dapat berfungsi dengan optimal. Proses transportasi ini
merupakan tanggung jawab perawat sirkuler dan perawat anastesi dengan
koordinasi dari dokter anastesi yang bertanggung jawab.
2.
PERAWATAN
POST ANASTESI DI RUANG PEMULIHAN (RECOVERY ROOM)
Setelah selesai
tindakan pembedahan, paseien harus dirawat sementara di ruang pulih sadar
(recovery room : RR) sampai kondisi pasien stabil, tidak mengalami komplikasi
operasi dan memenuhi syarat untuk dipindahkan ke ruang perawatan (bangsal
perawatan).
PACU atau RR
biasanya terletak berdekatan dengan ruang operasi. Hal ini disebabkan untuk
mempermudah akses bagi pasien untuk :
a. perawat
yang disiapkan dalam merawat pasca operatif (perawat anastesi)
b. ahli
anastesi dan ahli bedah
c. alat monitoring dan peralatan khusus penunjang
lainnya.
Alat monitoring
yang terdapat di ruang ini digunakan untuk memberikan penilaian terhadap kondisi
pasien. Jenis peralatan yang ada diantaranya adalah alat bantu pernafasan :
oksigen, laringoskop, set trakheostomi, peralatan bronkhial, kateter nasal,
ventilator mekanik dan peralatan suction. Selain itu di ruang ini juga harus
terdapat alat yang digunakan untuk memantau status hemodinamika dan alat-alat
untuk mengatasi permasalahan hemodinamika, seperti : apparatus tekanan darah,
peralatan parenteral, plasma ekspander, set intravena, set pembuka jahitan,
defibrilator, kateter vena, torniquet. Bahan-bahan balutan bedah, narkotika dan
medikasi kegawatdaruratan, set kateterisasi dan peralatan drainase.
Selain alat-alat
tersebut diatas, pasien post operasi juga harus ditempatkan pada tempat tidur
khusus yang nyaman dan aman serta memudahkan akses bagi pasien, seperti :
pemindahan darurat. Dan dilengkapi dengan kelengkapan yang digunakan untuk
mempermudah perawatan. Seperti tiang infus, side rail, tempat tidur beroda, dan
rak penyimpanan catatan medis dan perawatan. Pasien tetap berada dalam PACU
sampai pulih sepenuhnya dari pegaruh anastesi, yaitu tekanan darah stabil,
fungsi pernafasan adekuat, saturasi oksigen minimal 95% dan tingkat kesadaran
yang baik. Kriteria penilaian yang digunakan untuk menentukan kesiapan pasien
untuk dikeluarkan dari PACU adalah :
a. Fungsi
pulmonal yang tidak terganggu
b. Hasil
oksimetri nadi menunjukkan saturasi oksigen yang adekuat
c. Tanda-tanda
vital stabil, termasuk tekanan darah
d. Orientasi
pasien terhadap tempat, waktu dan orang
e. Haluaran
urine tidak kurang dari 30 ml/jam
f. Mual
dan muntah dalam kontrol
g. Nyeri
minimal
3.
TRANSPORTASI
PASIEN KE RUANG RAWAT
Transportasi
pasien bertujuan untuk mentransfer pasien menuju ruang rawat dengan
mempertahankan kondisi tetap stabil. Jika anda dapat tugas mentransfer pasien,
pastikan score post anastesi 7 atau 8 yang menunjukkan kondisi pasien sudah
cukup stabil. Waspadai hal-hal berikut : henti nafas, vomitus, aspirasi selama
transportasi.
Faktor-faktor
yang harus diperhatikan pada saat transportasi klien :
a. Perencanaan
Pemindahan klien
merupakan prosedur yang dipersiapkan semuanya dari sumber daya manusia sampai
dengan peralatannya.
b. Sumber
daya manusia (ketenagaan)
Bukan sembarang
orang yang bisa melakukan prosedur ini. Orang yang boleh melakukan proses
transfer pasien adalah orang yang bisa menangani keadaan kegawatdaruratan yang
mungkin terjadi sselama transportasi. Perhatikan juga perbandingan ukuran tubuh
pasien dan perawat. Harus seimbang.
c. Equipment
(peralatan)
Peralatan yang
dipersiapkan untuk keadaan darurat, misal : tabung oksigen, sampai selimut
tambahan untuk mencegah hipotermi harus dipersiapkan dengan lengkap dan dalam
kondisi siap pakai.
d. Prosedur
Untuk beberapa
pasien setelah operasi harus ke bagian radiologi dulu dan sebagainya. Sehingga
hendaknya sekali jalan saja. Prosedur-prosedur pemindahan pasien dan
posisioning pasien harus benar-benar diperhatikan demi keamanan dan kenyamanan
pasien.
e. Passage
(jalur lintasan)
Hendaknya
memilih jalan yang aman, nyaman dan yang paling singkat. Ekstra waspada
terhadap kejadian lift yang macet dan sebagainya.
4.
PERAWATAN
DI RUANG RAWAT
Ketika pasien
sudah mencapai bangsal, maka hal yang harus kita lakukan, yaitu :
a. Monitor
tanda-tanda vital dan keadaan umum pasien, drainage, tube/selang, dan
komplikasi. Begitu pasien tiba di bangsal langsung monitor kondisinya.
Pemerikasaan ini merupakan pemeriksaan pertama yang dilakukan di bangsal
setelah post operasi.
b. Manajemen
Luka
Amati kondisi
luka operasi dan jahitannya, pastikan luka tidak mengalami perdarahan abnormal.
Observasi discharge untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Manajemen luka
meliputi perawatan luka sampai dengan pengangkatan jahitan.
c. Mobilisasi
dini
Mobilisasi dini
yang dapat dilakukan meliputi ROM, nafas dalam dan juga batuk efektif yang
penting untuk mengaktifkan kembali fungsi neuromuskuler dan mengeluarkan sekret
dan lendir.
d. Rehabilitasi
Rehabilitasi diperlukan oleh pasien untuk memulihkan kondisi pasien kembali.
Rehabilitasi dapat berupa berbagai macam latihan spesifik yang diperlukan untuk
memaksimalkan kondisi pasien seperti sedia kala.
e. Discharge
Planning
Merencanakan
kepulangan pasien dan memberikan informasi kepada klien dan keluarganya tentang
hal-hal yang perlu dihindari dan dilakukan sehubungan dengan kondis/penyakitnya
post operasi.
Ada 2 macam
discharge planning :
1.
Untuk perawat
Berisi
poin-poin discharge planning yang di berikan kepada klien (sebagai
dokumentasi).
2.
Untuk pasien
Dengan
bahasa yang bias dimengerti pasien dan lebih detail
Merencanakan kepulangan pasien mempertimbngkan
beberapa hal:
1. Home
Care Preparation
Memodifikasi lingkungan
rumah sehingga tidak mengganggu kondisi klien
2.
Client/Family Education
Beri edukasi
tentang kondisi klien. Cara merawat luka dan hal-hal yang harus dilakukan atau
dihindari
3.
Psychososial
Preparation
Memastikan
hubungan interpersonal social dan aspek psikososial klien tetp terjaga.
4.
Health Care Resources
Pastikan bahwa
klien dn keluarga mengetahui adanya pusat pelayanan kesehatan yang terdekat
dari ruma klien, jadi jika dalam keadaan darurat bias segera ada pertolongan.
ASUHAN KEPERAWATAN POST
OPERATIF
A. PENGKAJIAN
Beberapa
hal yang perlu dikaji setelah tindakan pembedahan diantaranya adalah kesadaran,
kualitas jalan nafas, sirkulasi, dan perubahan tanda vital yang lain,
keseimbangan elektrolit , kardiovaskuler, lokasi daerah pembedahan dan
sekitarnya, serta alat yang digunkan dalm pembedahan.
B. DIAGNOSA
KEPERAWATAN POST OPERATIF
1. Gangguan
pertukaran gas b.d efek samping dari anaesthesi.
2. Kerusakan integritas kulit b.d luka post operasi
3. Nyeri akut b.d proses pembedahan
C. TUJUAN
, KRITERIA HASIL DAN INTERVENSI
1. Diagnosa : Gangguan pertukaran gas b.d efek
samping dari anaesthesi.
Tujuan :
kerusakan per-tukaran gas tidak terjadi
Kriteria hasil :
·
Status neurologis DBN
·
Dispnea tidak ada
·
PaO2, PaCO2, pH arteri dan SaO2 dalam
batas normal
·
Tidak ada gelisah, sianosis, dan
keletihan
intervensi :
·
Kaji bunyi paru, frekuensi nafas,
kedalaman dan usaha nafas.
·
Auskultasi bunyi napas, tandai area
penurunan atau hilangnya ventilasi dan adanya bunyi tambahan
·
Pantau hasil gas darah dan kadar
elektrolit
·
Pantau status mental
·
Observasi terhadap sianosis, terutama
membran mukosa mulut
·
Pantau status pernapasan dan oksigenasi
·
Jelaskan penggunaan alat bantu yang
diperlukan (oksigen, pengisap,spirometer)
·
Ajarkan teknik bernapas dan relaksasi
·
Laporkan perubahan sehubungan dengan
pengkajian data (misal: bunyi napas, pola napas, sputum,efek dari pengobatan)
·
Berikan oksigen atau udara yang
dilembabkan sesuai dengan keperluan
2. Diagnosa
: Kerusakan integritas kulit b.d luka post operasi
Tujuan :
kerusakan integritas kulit tidak terjadi
Kriteria
hasil :
·
Kerusakan kulit tidak adaEritema kulit tidak ada
·
Luka tidak ada pus
·
Suhu kulit DBN
Intervensi
:
·
Ganti balutan plester dan debris
·
Cukur rambut sekeliling daerah yang terluka, jika perlu
·
Catat karakteristik luka bekas operasi
·
Catat katakteristik dari beberapa drainase
·
Bersihkan luka bekas operasi dengan sabun antibakteri yang
cocok
·
Rendam dalam larutan saline yang sesuai
·
Berikan pemeliharaan lokasi IV
·
Sediakan pemeliharaan
luka bekas operasi sesuai kebutuhan
·
Berikan pemeliharaan kulit luka bernanah sesuai kebutuhan
·
Gunakan unit TENS (Transcutaneous Elektrikal Nerve
Stimulation) untuk peningkatan penyembuhan luka bekas operasi yang sesuai
·
Gunakan salep yang cocok pada kulit/ lesi, yang sesuai
·
Balut dengan perban
yang cocok
·
Pertahankan teknik pensterilan perban ketika merawat luka
bekas operasi
·
Periksa luka setiap mengganti perban
·
Bandingkan dan
mencatat secara teratur perubahan-perubahan pada luka
·
Jauhkan tekanan pada luka
·
Ajarkan pasien dan anggota keluarga prosedur perawatan luka
3. Diagnosa
: Nyeri akut b.d proses pembedahan\
Tujuan : Nyeri
dapat teratasi
Kriteria hasil :
·
Klien melaporkan nyeri berkurang dg scala 2-3
·
Ekspresi wajah tenang
·
klien dapat istirahat dan tidur
Intervensi :
·
Kaji nyeri secara komprehensif ( lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi ).
·
Observasi reaksi NV dr ketidak nyamanan.
·
Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri klien
·
Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti
suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan.
·
Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis/non
farmakologis).
·
Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll)
untuk mengetasi nyeri.
·
Kolaborasi pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri.
·
Evaluasi tindakan pengurang nyeri
·
Monitor TTV
D. EVALUASI
Evaluasi
terhadap masalah pascabedah secara umum dapat dinilai dari adanya kemampuan
dalam mempertahnkan status kesehatan , seperti adanya peningkatan proses penyembuhan luka, system sirkulasi,
keseimbangan cairan dan elektrolit, system eliminasi, serta tidak ditemukn
tanda kecemasan lanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Boedihartono.
1994. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta.
Brooker,
Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta.
Effendy,
Christantie dan Ag. Sri Oktri Hastuti. 2005. Kiat Sukses menghadapi Operasi.
Sahabat Setia : Yogyakarta.
Effendy,
Christantie. 2002. Handout Kuliah Keperawatan Medikal Bedah : Preoperatif
Nursing, Tidak dipublikasikan : Yogyakarta.
.Marilynn
E. Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.
Nasrul
Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC : Jakarta.
Shodiq,
Abror. 2004. Operating Room, Instalasi Bedah Sentral RS dr. Sardjito
Yogyakarta, Tidak dipublikasikan : Yogyakarta.
Sjamsulhidayat,
R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi. EGC : Jakarta.
Smeltzer,
Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah :
Brunner Suddarth, Vol. 1. EGC : Jakarta.
Wibowo,
Soetamto, dkk. 2001. Pedoman Teknik Operasi OPTEK, Airlangga University Press :
Surabaya.Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7.
EGC : Jakarta.
www.elearning.unej.ac.id
Effendy,
Christantie dan Ag. Sri Oktri Hastuti, 2005, Kiat Sukses menghadapi Operasi,
Sahabat Setia, Yogyakarta.
Shodiq,
Abror, 2004, Operating Room, Instalasi Bedah Sentral RS dr. Sardjito
Yogyakarta, Tidak dipublikasikan, Yogyakarta.
Sjamsulhidayat,
R. dan Wim de Jong, 1998, Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi, EGC, Jakarta
Smeltzer,
Suzanne C. and Brenda G. Bare, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah:Brunner
Suddarth, Vol. 1, EGC, Jakarta
Wibowo,
Soetamto, dkk, 2001, Pedoman Teknik Operasi OPTEK, Airlangga University Press,
Surabaya.

0 Response to "Laporan Pendahuluan Konsep Perioperatif Terbaru 2021 "
Post a Comment